Dalam waktu dekat ini diperkirakan akan terjadi eksodus warga Malaysia ke Indonesia dan negara-negara tetangga sekitarnya. Hal ini disebabkan National Fatwa Council Malaysia baru saja mengeluarkan suatu fatwa yang isinya melarang wanita yang bersifat kelaki-lakian/tomboi, dan sebaliknya laki-laki yang bersifat kewanita-wanitaan. Tujuan dikeluarkannya fatwa ini adalah untuk memberantas homoseksualitas/ gay & lesbian.

Berikut ini sedikit kutipan artikelnya, yang diambil dari china post.

Islamic Clerics in Malaysia Issue Rule to Ban Tomboys

KUALA LUMPUR, Malaysia — Malaysia’s main body of Islamic clerics has issued an edict banning tomboys in the Muslim majority country, ruling that girls who act like boys violate the tenets of Islam, an official said Friday.

Harussani said an increasing number of Malaysian girls behave like tomboys, and that some of them engage in homosexuality. Homosexuality is not explicitly banned in Malaysia, but it is effectively illegal under a law that prohibits sex acts “against the order of nature.” Harussani said the council’s ruling was not legally binding because it has not been passed into law, but that tomboys should be banned because their actions are immoral.”

Under the edict, girls are forbidden to sport short hair and dress, walk and act like boys. Boys should also not act like girls. “They must respect God. God created them as boys, they must behave like boys. God created them as girls, they must act like girls,” he said.

“It doesn’t matter if it’s a law or not. When it’s wrong, it’s wrong. It is a sin,” Harussani told The Associated Press. “Tomboy (behavior) is forbidden in Islam.”

A well-known Malaysian Muslim actress caused an uproar last year when she shaved her head bald for a film. Harussani and other muftis urged Muslims not to watch the movie, arguing that the actress had violated Islam by making herself look like a man.

Jika saja presenter Olga, Ruben Onsu, Dave Hendrik, ato Dorce ke Malaysia, Mungkin mereka bisa ditangkap oleh polisi RELA dan diinterogasi.

Heran mengapa orang2 tidak pernah bisa menghargai keragaman dan perbedaan sifat antar manusia. Apakah dunia yang indah adalah dunia yang dipenuhi oleh para wanita yang semuanya memakai rok, berambut panjang, dengan feminine shoes; Sedangkan para pria nya harus macho, kekar, dan kumisan berbulu.

Lalu bagaimana dengan para desainer yang mengusung ‘boyish looks‘, haruskah mereka gigit jari dan mengubah design style-nya…

Sesungguhnya, sikap/perilaku seseorang merupakan pengaruh dari lingkungannya, dan tidak bisa serta merta langsung dikaitkan dengan orientasi seksualnya, apakah seorang homoseks/bukan. Pria, baik yang doyan dandan (metroseksual abis) sampai dengan yang macho sekali, bisa saja ternyata gay. Sebaliknya wanita yang lesbian pun beragam, mulai dari yang sangat maskulin hingga yang super feminin. Jadi, aneh sekali rasanya bahwa cita rasa keindahan dan kelembutan pria ataupun kemaskulinan seorang wanita dilihat sebagai sesuatu yang melanggar norma agama.

Bagaimana di Indonesia sendiri? Di beberapa lokasi prostitusi sering qta jumpai banci2. Bahkan di layar televisi qta, banci menjadi salah satu tokoh pendukung karakter protagonis. Presenter laki2 yang kewanita-wanitaan juga semakin banyak dijumpai di layar kaca. Dan saya jadi ingat film Warkop DKI zaman dahulu dimana Indro / Dono suka berperan sebagai banci yang disukai laki2.

Kaum banci entah mengapa memang menjadi hiburan tersendiri, walau tidak mendidik. Karena sulitnya himpitan hidup dan kurangnya lahan pekerjaan, banyak laki-laki yang beralih menjadi banci untuk mendapatkan uang. Yah, perhatikan saja para banci yang ngamen ke rumah2, ada yang bener2 feminin dan gemulai, dan ada juga yang dibuat-buat. Selain itu, ada juga reality show di salah satu TV swasta yang menggambarkan transformasi batin seorang banci kembali menjadi pria sejati. Dan tidak dapat dipungkiri, banyak juga kaum banci yang populer dan meraih sukses serta mengharumkan nama Indonesia, terutama di bidang fashion, sebut saja nama Ivan Gunawan dan Oscar Lawalata.

Don’t judge the book by its cover. Seharusnya orang2 pintar dan berkuasa bisa menilik kembali pepatah ini, dan lebih bijak memutuskan sesuatu karena keputusan mereka akan mempengaruhi hidup orang banyak. Terlepas dari orientasi seksualnya, seseorang selayaknya dihargai berdasarkan karya dan kerja keras mereka. Bukankah Tuhan menilai seseorang berdasarkan ketakwaannya, dan bukan karena penampilan luarnya. Biarlah masalah orientasi seksual itu menjadi urusan antara yang bersangkutan dengan Yang Di Atas nanti.

doramimiauw,
pakar-bancitologi-tapi-bukan-banci