Masih segar dalam ingatan doramimiauw kerusuhan Mei 1998, 10 tahun yg lalu, ya…waktu itu sedang masa sulit akibat krisis ekonomi, banyak usaha yg bangkrut, tidak terkecuali usaha papa. Doramimiauw yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6 SD, sedang EBTA/EBTANAS (waaa…jadul banget yak, sekarang disebutnya Ujian Nasional). Saat sedang mengerjakan ujian, sudah tersebar desas-desus akan ada kerusuhan. Segera setelah ujian, siswa-siswi dihimbau utk langsung pulang oleh para guru. Kemudian mati lampu, dari lantai 3 rumah doramimiauw terlihat api hitam mengepul dari ruko-ruko di depan gang. Kebetulan doramimiauw saat itu memang tinggal di daerah yang termasuk cukup dekat dengan daerah Pecinan, alias Glodok; dan juga terbilang cukup dekat dgn ITC Roxy Mas. Kami sekeluarga berdoa di dalam rumah, untunglah gang rumah kami dijaga oleh warga tetangga2 kami yg pribumi. Papa memang punya hubungan yang baik dengan warga sekitar, bahkan Bang Nur bilang jika ada apa2 nanti sembunyi saja di rumahnya. Untungnya, tidak ada suatu hal apapun yg terjadi pada keluarga doramimiauw, maupun handai taulan yg lain. Namun ketika beberapa hari kemudian doramimiauw masuk sekolah, doramimiauw bersama teman2 menangis dan berpelukan karena ada beberapa teman yg menjadi korban kerusuhan, rumah/rukonya dibakar sehingga harta bendanya ludes, tdk punya rumah, tinggal menumpang, pokoknya kondisinya cukup memprihatinkan. Walaupun masih bersyukur, di antara teman2 sekelas saat itu tdk ada korban jiwa ataupun mengalami hal2 yg lebih keji. Akhirnya, kami semua pun urunan memberikan uang dan barang2 kepada teman2 yg menjadi korban. Walau demikian, akibat kejadian tersebut timbul byk pertanyaan seperti kenapa etnis Tionghoa yg menjadi sasaran?

Kerusuhan Mei memang bukan milik etnis Tionghoa saja, korban dari etnis non-Tionghoa pun tidak sedikit. Namun, tidak bisa dielakkan kenyataannya/stigma yg terbentuk saat itu adalah penyerangan terhadap etnis Tionghoa. Lihat saja, utk menghindar dari amuk massa di pagar tiap rumah dituliskan “MILIK PRIBUMI”. Menurut peneliti Widjajanti Darmowijonostereotipe negatif terhadap etnis Tionghoa (seperti suka menipu, mencuri, tamak dan licik) merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, yang tujuannya untuk memecah belah etnis Tionghoa dengan Jawa. Contohnya ketika rakyat Indonesia sangat menderita akibat tanam paksa. Etnis Tionghoa dilukiskan sebagai tukang candu dan tukang makan babi jagal serta dijadikan sebagai kambing hitam yang menyengsarakan rakyat. Padahal pemasok candu itu adalah kolonial Belanda. Hal ini jugalah yang dimanfaatkan oleh para provokator kerusuhan Mei. Pada masa itu, ruang gerak politik etnis Tionghoa dibatasi (akibat pengaruh dari Pemberontakan G/30S-PKI), sehingga secara otomatis etnis Tionghoa lebih banyak berkiprah di bidang ekonomi. Tidak sedikit pula peraturan2 pemerintah yang menjegal usaha ekonomi etnis Tionghoa. Sebut saja dalam mengurus izin usaha, pungli2 yang lebih besar, dll. Namun kegigihan akhirnya berbuah kesuksesan. Perlu diingatkan di sini, tidak sedikit juga jumlah etnis Tionghoa yang hidup dalam garis kemiskinan. Namun memang yg kaya lebih menonjol, mengingat saat itu kebanyakan super-konglomerat Indonesia berasal dari etnis Tionghoa.

Dalam 10 tahun peringatan kerusuhan Mei 1998 dan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia, banyak hal yang disyukuri oleh doramimiauw karena terlahir sebagai etnis Tionghoa di tanah bumi tercinta Indonesia…Doramimiauw berharap di masa2 yg akan datang doramimiauw dpt memberikan kontribusi bagi negeri ini. Seperti halnya Wang Lianxiang (Susi Susanti), Alan Budikusuma, Candra Wijaya, Simon Santoso, Rudi Hartono, Liem Swie King, (wew…sebagian besar pemain bulutangkis Indonesia pada masa2 awal koq etnis Tionghoa), Ong Hok Ham (RIP), Ir.Ciputra, Kwik Kian Gie, bahkan yang terbaru sekarang ada Delon, Gisel (finalis Indonesian Idol 2008 yg soooo cute), dan Sandra Angelia yang uda resmi jadi Miss Indonesia 2008. Untuk nama terakhir, Sandra Angelia sempat hijrah melanjutkan SMP ke Australia pasca kerusuhan Mei. Munculnya Sandra Angelia menjadi Miss Indonesia tentunya menjadi energi  fengshui positif bagi etnis Tionghoa, dan hopefully bagi seluruh Indonesia. 

Di tengah2 puluhan peraturan hukum yang masih diskriminatif bagi etnis Tionghoa, kontribusi etnis Tionghoa bagi kemajuan bangsa ini tentunya menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi etnis Tionghoa namun juga bagi segenap bangsa Indonesia. Semoga!